Showing posts with label Others History. Show all posts
Showing posts with label Others History. Show all posts

Tuesday, 20 December 2011

Film Murudeka 17805

Assalamualaikum Wr. Wb ..
Film ini TIDAK BOLEH DIPUTAR Di INDONESIA

Kontroversi 'Sang Juru Selamat'

Film "Murudeka 17805" ini mengundang kontrofersial bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang. Lantaran Jepang terlalu ditampilkan sebagai sosok pahlawan.

Title                  :     Film Murudeka 17805
Director            :     Yukio Fuji
Skenario           :      Ishimatsu Aibutsu
Writer               :     Yoshihiro Ishimatsu
Stars                 :     Miki Fujitani, Naoki Hosaka, Chieko Matsubara, Jundai Yamada, Lola Amaria
Produksi            :     Tokyo Film Production
Genres              :     Action | Drama | War | History
Language          :     Japanese, Indonesian
Budget              :     $15,000,000 (estimated)
Duration            :     122 min
Release Date      :     12 May 2001 (In Japan)
Filming Locations:     Indonesia
Quality               :     VCDRip

... Saya menghimbau agar bagian-bagian adegan film yang tidak patut atau berlebihan dapat dihilangkan. Khususnya adegan seorang nenek tua Indonesia mencium kaki tentara Jepang pada bagian awal film tersebut, yang merendahkan martabat dan melukai hati bangsa Indonesia ...

Demikian bunyi surat Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Soemadi D.M. Brotodiningrat, yang disampaikankan Maret silam kepada Katsuaki Asano, Presiden Tokyo Film Production. Tentunya kini kejengkelan Soemadi meluap. Itu lantaran film Merdeka yang diprotesnya tetap beredar di bioskop-bioskop Jepang tanpa menghilangkan beberapa bagian yang dianggap melukai hati bangsa kita.

Awal "geger" ini bermula dari Juni tahun 2000. Suatu hari, beberapa sineas Jepang mengajukan izin membuat film berjudul Merdeka 17805 atau Dokuritsu 17805 di Indonesia kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang. Mereka bekerja sama dengan Rapi film. Pihak kedutaan kemudian berpendapat bahwa ada beberapa bagian sinopsis yang kurang akurat dan harus diperbaiki. Perekaman film lalu dilaksanakan di Jakarta dan Yogya. Tapi kemudian, tatkala pihak KBRI diundang menghadiri preview pada Februari 2001, alangkah terkejutnya mereka melihat bagaimana film yang menonjolkan Jepang sebagai "Sang Juru Selamat".

Adegan penyambutan pendaratan pasukan Jepang di pantai Jawa, yang melukiskan seorang nenek tua (dimainkan oleh seorang ibu berumur 60 tahun di Kasongan, Yogya) mencium kaki serdadu Jepang sebagai mesias yang ditunggu-tunggu, dianggap keterlaluan. Memang ada ramalan terkenal dari Jayabaya tentang bakal datangnya orang-orang kuning. "Saya bilang ke sutradaranya, ramalan Jayabaya tidak menyebut Jepang juru selamat. Jayabaya hanya menyebut akan datangnya orang kate," kata Syahry Sakidin, Kepala Bagian Penerangan KBRI di Tokyo. Syahry melihat film ini cenderung bertendensi membangkitkan glorifikasi Jepang.

Bagaimana reaksi para penonton Jepang? Dengar pendapat dua orang kakek Jepang yang mengalami pahitnya Perang Dunia II. Watanabe, 90 tahun, ke kantor KBRI untuk menyampaikan bahwa adegan cium kaki itu sangat merendahkan martabat bangsa Indonesia. Ia berkata tegas: "Dame!" (Tidak boleh). Prof. Dr. Fukuoka, M.D., 90 tahun, salah seorang mantan dokter tentara Jepang di Sulawesi utara, yang dahulu memihak Indonesia dan kini Ketua Alumni Kursus Orientasi Indonesia (KOI ), juga sependapat. Warga Jepang ini mengatakan bahwa mereka khawatir, film itu akan membawa semangat militerisme bagi rakyat Jepang. Umumnya pemuda Jepang kini mengalami sindrom takut perang, sejak kekalahan Jepang atas pihak Sekutu "Ini keadaan yang lebih baik ketimbang militerisme yang membawa kehancuran," kata Fukuoka. Akan halnya seorang guru muda bahasa Jepang bernama Chie Kase, ia melihat di balik film ini adalah partai-partai sayap kanan yang selalu berusaha mencuci aib sejarah Jepang. Buktinya? "Koran Sankei Shimbun yang berhaluan kanan memuat resensi film itu sepanjang tiga halaman dalam bentuk iklan. Bukan tak mungkin nanti kelompok kanan membuat film-film sejenis di Cina, Korea, Myanmar, Filipina," demikian Chie Kase mengemukakan analisisnya.

Mengidentifikasi Jepang sebagai juru selamat memang sangat naif. Ucapan Lola di film saat melihat kekasih Jepangnya meninggal dunia sembari berteriak, "Jepang memang kalah perang tapi kamu menang," (lihat Merdeka Versi Fuji-San) memang terlalu simplistik dan murah meriah. Tapi apa benar sesungguhnya sutradara Fuji Yukio dan penulis skenario Ishimatsu Aibutsu sama sekali tak menghiraukan perasaan orang Indonesia? Sesungguhnya, sebelumnya, terlihat pada skenario asli yang menampilkan 10 adegan yang terlalu didramatisir, kesepuluh adegan itu dibuang.

"Adegan tokoh yang saya perankan ada yang seharusnya menangis-nangis meminta tentara Jepang segera berperang membantu Indonesia, dan itu akhirnya dilenyapkan," tutur Lola Amaria, satu-satunya aktris Indonesia yang berperan sebagai Suster Ariyati, yang berpacaran dengan Letnan Shimazaki. Sesungguhnya, dalam adegan itu ia harus merengek-rengek, berkata. "Ayolah, Shimazaki, kita perang. Kalau pemimpinnya tidak ada, kita akan kalah semua."

Sejarah memang berisi paradoks. Peran Jepang dan sikap Indonesia terhadap Jepang di masa itu tentunya tak bisa dibuat sebagai suatu sikap yang homogen. Apalagi mengingat begitu banyak catatan yang memperlihatkan sikap Sukarno terhadap romusha. Itulah sebabnya, membuat film dengan latar belakang sejarah akan selalu penuh dengan problem (masalah), terutama karena buku-buku sejarah sering melupakan sikap masyarakat yang luar biasa tertindas di masa pendudukan Jepang.

Akhir film itu mencapai tahun 2000. Di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Aryati mempersembahkan rangkaian bunga di atas dua kuburan serdadu Jepang. Aryati menyatukan tangan dan memberi hormat: "Di Indonesia, jiwa prajurit yang mengorbankan hidupnya dalam perang kemerdekaan akan naik surga, menjadi bintang yang dinamakan orang bintang kemerdekaan, yang akan membimbing kita," demikian bisiknya.

Adegan itu, bagi seorang nasionalis, mungkin menyesakkan dada.

Untuk men-download film ini Silahkan download lewat keempat link dibawah ini:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15

Subtitle    :
- Indonesian
- English

Password    :    www.dvdlangka.com
READ MORE >>

Saturday, 10 December 2011

Kalender Sunda Telah Diakui Kerajaan Kelantan

Assalamualaikum Wr. Wb ..
Penanggalan Sunda kuno memang sudah mulai dikenalkan sejak 6 tahun lalu oleh kalangan pencinta kasundaan atau komunitas kabuyutan Sunda. Namun hingga sekarang, masyarakat Sunda masih banyak yang belum mengenal betul tentang keberadaan kalender Sunda. Dari dulu hingga sekarang hanya kalangan orang tua tertentu yang biasa menggunakannya untuk menentukan hari baik suatu acara syukuran.

Kalender Sunda memiliki dua belas bulan sama dengan kalender Masehi, namun nama-namanya yang berbeda. Jumlah hari dalam setiap minggunya pun sama ada tujuh hari, tapi namanya punya beda sendiri. Namun dalam setiap bulannya, bulan pada kalender Sunda tidak ada yang memiliki di atas 30 hari. Jumlah hari dalam bulan kalender Sunda hanya sampai 30 hari atau 29 hari.

Adapun penamaan bulannya terdiri dari Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palaguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji. Sedangkan penamaan harinya terdiri dari Radite (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jumat), Tumpek (Sabtu).

Perbedaan lain yang terlihat pada kalender Sunda adalah tanggalnya. Karena dalam penanggalannya hanya menggunakan angka 1 sampai 15. Sehingga pada satu bulan itu tampak ada pengulangan angka untuk tanggalnya, setelah tanggal 15 kembali ke tanggal 1. Namun pada setiap dibelakang angkanya diberi tanda huruf S untuk tanggal 1-15 di awal bulan, dan tanggal 115 selanjutnya diberi huruf K.

"Soal tanggal yang diberi tanda S dan K itu dikarenakan penanggalannya mengacu pada dua perhitungan, yakni bulan dan matahari. Tanda S artinya Suklapaksa atau paro caang, dan K artinya Kresnapaksa atau paro poek," kata Budi Dalton, penasehat acara Perayaan Tahun Baru Sunda 1948 Saka kepada wartawan saat jumpa pers di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Rabu (2/11).

Selain itu dikatakan Budi, pada kalender Sunda yang dirintis penelitiannya oleh putra kelahiran Bandung, almarhum abah Ali Sastramidjaja, pergantian hari dan tanggalnya bukan pada malam hari seperti pada penanggalan Masehi. Pergantian hari pada pertanggalan Sunda terjadi pada sore hari atau sekitar pukul 18.00.

"Acuan awal tahunnya pun mengacu pada tahun Saka. Sehingga sekarang ini kalendernya pada tahun 2011 tanggal 4 November nanti baru menginjak pada tahun baru 1948, atau lengkapnya tanggal 1, bulan Kartika, tahun 1948," jelasnya.

Meski belum banyak yang tahu apalagi menggunakan, komunitas kabuyutan Sunda selama enam tahun ini tak pernah berhenti membuat kalender Sunda setiap tahunnya untuk dibagikan secara gratis.

Penerbitan kalender Sunda yang merupakan upaya meneruskan hasil kerja keras Abah Ali itu dikatakan Koordinator Perayaan Tahun Baru Sunda 1948 Saka, Dadang Hermawan yang akrab disapa Mang Utun, sudah mendapat pengakuan dari raja-raja seNusantara. Bahkan Kerajaan Kelantan, Malaysia pun sudah mengakui keberadaan kalender Sunda yang akurat.

"Kami jadi bangga karena Kerajaan Malaysia pun mengakui keberadaan kalender Sunda ini," kata Utun kepada wartawan di  GIM, Rabu (2/11).

Menurut Utun, pengakuan keberadaan kalender Sunda tersebut dilakukan oleh keturunan ketujuh dari Sri Ratu Puteri Sadong, Raja Kelantan Malaysia, yakni Raja Tengku Putri Anis Raja Sazali, pada tahun 2010. Ketika itu Raja Tengku Putri Anis Raja Sazali menghadiri acara pertemuan Raja dan Sultan se- Nusantara.

"Kerajaan Malaysia itu mengakui keberadaan kalender Sunda karena merasa masih satu keturunan, sebagai keturunan  Sunda Besar juga, sebelum masa kolonial," ujar Utun.

Untuk lebih mengenalkan kalender Sunda kepada masyarakat Sunda, Utun bersama gabungan komunitas pencinta kasundaan yang menamakan diri sebagai komunitas kabuyutan Sunda akan menggelar berbagai acara di berbagai daerah sebagai bentuk perayaan tahun baru Sunda. Acara akan dimulai tepat pada hari pergantian tahun baru, atau pada Jumat (4/11) di samping timur Gedung Merdeka, Jalan Cikapundung Timur.

Acara pembuka perayaan tahun baru Sunda itu akan dihadiri penyanyi ternama asal Bandung, Trie Utami yang akan memberikan pangjajap (pembuka). Kemudian dilanjutkan dengan acara Pasaduan (syukuran), simbolisasi ritual 'ngalarung' di Sungai Cikapundung, serta dimeriahkan dengan seni tradisional Subang, Gembyung.

Selain itu akan digelar pula pertemuan dan diskusi bersama tokoh-tokoh astronomi di Rumah Makan Sapulidi Jalan Cihampelas pada 9 November. Kemudian  digelar pergelaran seni Sunda di Padepokan Loka Gandasasmita di Garut pada 10 November. Pada 11 November akan digelar acara seni budaya di dua tempat yakni di Cilauteureun, Garut berupa Ngaruat Jagat, dan Hajat Lembur di Ciparay, Kabupaten Bandung.

Tak hanya itu, perayaan tahun baru Sunda juga akan menggelar Bandung Death Festival di Lapangan Pussenkav, Jalan Turangga, pada 20 November. Kemudian 23 November akan digelar pergelaran seni budaya di Negara Banceuy, Subang. Sedangkan puncaknya akan digelar pada 26 November 2011.

"Untuk acara puncak, tempatnya masih belum dipastikan. Kemungkinannya akan digelar di Kabupaten Bandung atau Kota Bandung," kata Utun.


*Dikutip dari Tribun tanggal 3 November 2011


* Mengamati tentang artikel Kalender Sunda ini menambah wawasan saya tentang betapa cerdasnya karuhun karuhun dari tatar sunda dalam melakukan penanggalan Kalender, sepertinya walaupun dahulu belum memiliki alat yang canggih untuk mengukur penanggalan tapi itu semua telah dibuktikan dengan adanya Kalender Sunda yang akan diakui oleh masyarakat luas. Alih-alih saya berfikir karuhun karuhun sunda pastinya sangat mengenal bentul tentang ilmu Astrologi (Perbintangan) dan jangan jangan pastinya berkaitan dengan ilmu sihir.

So .. Keep your Sunda Please :)
READ MORE >>

Thursday, 1 December 2011

Saung Angklung Udjo

Assalamualaikum Wr. Wb ..
Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan sebuah corak kekayaan dunia yang terus memberi warna dan makna bagi kehidupan manusia. Terletak, di bagian timur kota Bandung, Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan tempat dimana kita masih dapat merasakan kesegaran alam, kicauan burung dan kegembiraan anak-anak. SAU merupakan sebuah sanggar seni sebagai tempat pertunjukan seni, laboratorium dan tempat pelatihan seni budaya Sunda. SAU merupakan sebuah bukti bagaimana nilai budaya yang dipertahankan dapat membuahkan nilai manfaat yang beragam bagi masyarakat sekitar.yang terdiri dari :

Tempat pertunjukan, pusat kerajinan bambu dan alat instrumen bambu. Hal tersebutlah yang menjadikan SAU sebagai pusat pendidikan dan penelitian angklung - seni dan kebudayaan sunda.

SAU Didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena (Alm.) beserta istri Uum Sumiati, sebagai sebuah sanggar seni dan pusat produksi Angklung. Kini SAU telah berkembang menjadi sebuah objek wisata budaya Jawa Barat.. Dengan kemauan dan dedikasi yang kuat untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya tradisional sunda.

SAU mengilustrasikan alam dan budaya dalam keharmonisan, tidak mengherankan SAU menjadi tujuan destinasi wisata kebudayaan sunda sebagai warisan cagar budaya dunia.

Saung Angklung Udjo merupakan sepenggal kisah bagaimana kekayaan budaya lokal masih dapat bertahan dan barakulturasi dengan desakan arus globalisasi. Terletak atas dasar semangat Udjo Ngalagena (1929-2001) untuk melestarikan kebudayaan Sunda.

Alunan Rumpun Bambu Saung Angklung Udjo adalah sketsa keindahan bumi Tatar Sunda. Gemerisik daun bambu menyapa telinga, mulai dari gerbang hingga pojok paling belakang; bambu dan bambu. Udara segar menghantar kita untuk merasakan suasana tradisi, menikmati alam dan keragaman jenis pohon bambu.


Keceriaan Anak-Anak Senyum dan aktivitas anak-anak adalah “ruh” dari Saung Angklung Udjo. Sejak tahun 1966 proses regenerasi seni tradisi dilakukan dengan cara bermain sambil belajar. Di setiap sudut, senyuman dan sapaan anak-anak akan menemani anda ketika mengenal suasana Saung Angklung Udjo.

Pusat Produksi Angklung Sebagai pusat produksi Angklung di Indonesia, SAU merupakan tempat untuk melihat dan belajar bagaimana sebatang bambu menjadi melodi yang merdu. Kenali dan ketahui proses khasanah kearifan lokal sebagai bagian dari melestarikan budaya tradisi.

Cinderamata yang ada di Toko Saung Angklung Udjo memiliki berbagai hasil kriya tangan terampil masyarakat Jawa Barat.

Pertunjukan Seni Budaya Pertunjukan Bambu Petang merupakan sebuah mahakarya Udjo Ngalagena yang masih dapat kita apresiasi hingga kini, dipentaskan setiap hari mulai pukul 15.30 wib. Pertunjukan ini merupakan pagelaran apik dari budaya tradisi Sunda.

Datanglah .. alami dan nikmati budaya khas Sunda di Saung Angklung Udjo ..
READ MORE >>

7 Kampung adat di Tatar Sunda

Assalamualaikum Wr. Wb ..

Di Jawa Barat, masyarakat adat tak hanya berada di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar. Setiap masyarakat adat memiliki ciri khas dan wilayah adatnya masing - masing. Sekalipun beberapa sudah mulai menerima masuknya Teknologi, warga kampung adat ini umumya masih memelihara dan melaksanakan wasiat leluhur secara teguh. Berikut, beberapa kampung adat yang ada di Jawa Barat :

Kampung Cikondang
Kampung Cikondang secara administratif terletak di dalam wilayah Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kampung Cikondang ini berbatasan dengan Desa Cikalong dan Desa Cipinang (Kecamatan Cimaung) di sebelah utara, dengan Desa Pulosari di sebelah selatan, dengan desa Tribakti Mulya di sebelah Timur, serta di sebelah barat berbatasan dengan desa Sukamaju. Jarak dari Pusat Kota Bandung ke Kampung Adat Cikondang ini sekitar 38 Kilometer, sedangkan dari pusat Kecamatan Pangalengan sekitar 11 Kilometer. Dari Kota Bandung ke arah Selatan melewati Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Cimaung. Jarak dari ruas jalan Bandung-Pangalengan yang berada di wilayah Kampung Cibiana ke Kampung Cikondang satu kilometer. Sedang dari jalan komplek perkantoran PLTA Cikalong, melewatai bendungan dengan tangga betonnya, selanjutnya melalui Kantor Desa Lamajang sekitar satu setengah kilometer.
Menurut kuncen Kampung Cikondang, konon mulanya di daerah ini ada seke (mata air) yang ditumbuhi pohon besar yang dinamakan Kondang. Oleh karena itu selanjutnya tempat ini dinamakan Cikondang atau kampung Cikondang. Nama itu perpaduan antara sumber air dan pohon Kondang; “Ci” berasal dari kependekan kata “cai” artinya air (sumber air), sedangkan “kondang” adalah nama pohon tadi..

Masih menurut penuturan kuncen, untuk menyatakan kapan dan siapa yang mendirikan kampung Cikondang sangat sulit untuk dipastikan. Namun, masyarakat meyakini bahwa karuhun (Ieluhur) mereka adalah salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Mereka memanggilnya dengan sebutan Uyut Pameget dan Uyut Istri yang diyakini membawa berkah dan dapat ngauban (melindungi) anak cucunya.
Kapan Uyut Pameget dan Uyut Istri mulai membuka kawasan Cikondang menjadi suatu pemukiman? Tidak ada bukti konkrit yang menerangkan kejadian itu, baik yang tertulis maupun lisan. Menurut perkiraan seorang tokoh masyarakat, Bumi Adat diperkirakan telah berusia 200 tahun. Jadi, diperkirakan Uyut Pameget dan Uyut Istri mendirikan pemukiman di kampung Cikondang kurang Iebih pada awal abad ke-XIX atau sekitar tahun 1800.

Kampung Mahmud
Kampung Mahmud berada di Desa Mekar rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Kampung adat ini adalah kampung bersejarah yang dihuni 200 kepala keluarga di area seluas 4 hektar, dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Sang pendiri, Embah Eyang Abdul Manaf, keturunan dari Syarif Hidayatuliah seorang wali yang berasal dari Cirebon, mendirikan kampong ini di pinggiran Sungai Citarum setelah kembali dari haji, di mana beliau mendapat firasat bahwa negerinya akan dijajah oleh bangsa asing (Belanda). Nama Mahmud diberikan sesuai dengan nama tempat Eyang Manaf berdoa ketika berada di Mekah, yakni Gubah Mahmud. Pada jaman penjajahan, tempat ini dimanfaatkan untuk tempat persembunyian yang aman oleh penduduk daerah sekitar. Sampai saat ini, masyarakat Kampung Mahmud sangat mencintai dan menghormati leluhurnya, dengan memelihara makamnya dengan baik, bahkan menempatkannya sebagai makam keramat yang senantiasa diziarahi oleh mereka.

Kampung Urug
Kampung Urug berada di wilayah bogor, sekitar 48 KM dari pusat kota. Kampung adat ini adalah sebuah kampung adat yang masyarakatnya percaya sebagai keturunan Prabu Siliwangi, raja di Kerajaan Pajajaran, Jawa Barat. Salah satu bukti yang dianggap mendukung hal itu adalah konstruksi bangunan rumah tradisional di Kampung Urug, yang memiliki ciri sambungan kayu yang sama dengan sambungan kayu yang terdapat pada salah satu bangunan di Cirebon yang juga merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Pajajaran.

Kata Urug dijadikan nama kampung karena dianggap berasal dari kata "Guru", dengan mengubah cara membaca yang dilakukan dari kiri namun sekarang dibaca dari sebelah kanan. Kata "Guru" berdasarkan etimologi rakyat atau kirata basa adalah akronim dari digugu ditiru. Jadi seorang guru haruslah "digugu dan "ditiru", artinya dipatuhi dan diteladani segala pengajaran dan petuahnya.

Kampung Pulo
Merupakan suatu perkampungan yang terdapat di dalam pulau di tengah kawasan Situ Cangkuang, di Kecamatan leles, kabupaten Garut. Menurut cerita rakyat, masyarakat Kampung Pulo dulunya menganut agama Hindu, lalu Embah Dalem Arif Muhammad singgah di daerah ini karena terpaksa mundur pada saat mengalami kekalahan sewaktu menyerang Belanda. Karena malu kepada Sultan Agung maka Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau kembali ke Mataram. Pada saat itu beliau mulai menyebarkan agama Islam pada masyarakat Kampung Pulo. Sampai dengan beliau wafat dan dimakamkandi Kampung Pulo, beliau meinggalkan 6 orang anak dan salah satunya adalah pria. Oleh karena itu di Kampung Pulo didirikan 6 buah rumah adat yang berjajar saling berhadapan masing-masing 3 buah rumah di kiri dan di kanan ditambah dengan sebuah mesjid. Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah ataupun dikurangi, serta yang tinggal di dalam rumah tersebut tidak boleh melebihi dari 6 kepala keluarga. Jika seorang anak laki-laki sudah dewasa dan menikah maka paling lambat 2 minggu setelah itu harus segera meninggalkan rumah dan harus keluar dari lingkungan keenam rumah tersebut. Walaupun 100 % dari warga Kampung Pulo beragama Islam, mereka tetap melaksanakan sebagian dari upacara ritual agama Hindu.

Kampung Naga
Kampung Naga berlokasi di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kampung ini telah lama dikenal sebagai salah satu kampung adat di Jawa Barat. Menurut salah satu versi sejarahnya, Kampung Naga bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Kemudian seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke arah barat dan sampai di daerah Neglasari. Di tempat tersebut, Singaparana disebut Sembah Dalem Singaparana oleh masyarakat setempat. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk untuk bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.

Tokoh leluhur Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat setempat adalah Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana atau Eyang Galunggung, yang dimakamkan di sebelah barat Kampung Naga. Makam ini dianggap sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Eyang Singaparna tidak meninggal dunia melainkan hilang tanpa meninggalkan jasad. Di tempat yang dipercaya sebagai tempat hilangnya Eyang Singaparna itu masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan masyarakat Kampung Naga.

Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang dihormati seperti Pangeran Kudratullah, yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam,  Raden Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, yang mengusai ilmu kekebalan "kewedukan", Ratu Ineng Kudratullah atau disebut Eyang Mudik Batara Karang, yang menguasai ilmu kekuatan fisik "kabedasan", Pangeran Mangkubawang, yang menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan, dan Sunan Gunungjati Kalijaga, yang menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang pertanian.

Lokasi Kampung Naga sendiri tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas alam di sebelah barat berupa hutan yang dianggap keramat karena terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah ditembok (Sunda sengked) sampai ke tepi Sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai ke dalam Kampung Naga.

Kampung Kuta
Kampung yang konon sempat dicalonkan sebagai ibukota Kerajaan Galuh ini dikelilingi oleh perbukitan (kuta = tembok), dari mana namanya berasal. Yang unik di sini adalah pelapisan sosial yang didasarkan pada status dan peran; golongan yang memimpin secara formal menduduki jabatan tertentu dalam lembaga pemerintahan desa seperti kepala desa, kepala dusun, ketua RW, dan ketua RT, sedangkan pimpinan non-formal adalah pimpinan berdasarkan penghormatan dan penghargaan masyarakat terhadap seseorang karena alasan usia, pengalaman, pengetahuan, dan peran di lingkungannya (dikenal dengan sebutan sesepuh dan kuncen).

Walau masyarakat Kampung Kuta terikat pada aturan-aturan adat, mereka mengenal dan menggemari berbagai kesenian, baik tradisional maupun modern seperti calung, reog, sandiwara (drama Sunda), tagoni (terbang), kliningan, jaipongan, kasidah, ronggeng, sampai dangdut. Anda dapat menyaksikannya pada saat selamatan/hajatan, terutama hajatan perkawinan dan penerimaan tamu kampung.

Kampung Dukuh
Kampung Dukuh berlokasi di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Dalam kisah tradisi yang dipercayai masyarakat setempat bahwa yang berjasa sebagai pendiri Kampung Dukuh adalah Syekh Abdul Jalil.

Menurut cerita nama dukuh diambil dari bahasa Sunda yang berarti tukuh (kukuh, patuh, teguh), dalam mempertahankan apa yang yang menjadi miliknya, atau taat dan sangat patuh menjalankan tradisi warisan nenek moyangnya. Menurut penuturan (2006) Lukmanul Hakim, Juru Kunci (Kuncen) Kampung Dukuh istilah dukuh berasal dari padukuhan atau dukuh = calik = duduk. Jadi padukuhan sama dengan pacalikan atau tempat bermukim.

Kampung Dukuh merupakan kesatuan pemukiman yang mengelompok, terdiri atas beberapa puluh rumah yang berjajar pada kemiringan tanah yang bertingkat. Pada tiap tingkatan terdapat sederetan rumah yang membujur dari arah barat ke timur. Letak antar rumah hampir berdempetan, sehingga jalan kampung terletak di sela-sela rumah penduduk berupa jalan setapak. Kampung Dukuh terdiri atas dua daerah pemukiman yaitu Dukuh Luar (Dukuh Landeuh = bawah) dan Dukuh Dalam (Dukuh Tonggoh = atas). Selain Dukuh Luar dan Dukuh Dalam, terdapat wilayah lain yang bernama Tanah Karomah (tanah keramat). Di dalam wilayah Tanah Karomah terdapat Makam Karomah (makam keramat). Di antara ketiga wilayah ini dibatasi oleh pagar tanaman.

Referensi:
http://fauzan47.multiply.com/journal/item/11?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/
READ MORE >>

Tuesday, 18 October 2011

Yakin Keturunan Sunda

Assalamualaikum Wr. Wb


Tak pernah disangka bahwa Raja Teungku Putri Anis Raja Sazali (24thn) yang saat ini memangku jabatan sebagai Sri Ratu Saadong VII, Kelantan, Malaysia, ternyata punya ketertarikan yang sangat besar terhadap budaya Sunda.

Di Hotel Homann, Kota Bandung, pada hari selasa tepatnya, Raja Teungku Putri Anis Raja Sazali yang akrab dipanggil Ratu ini, begitu hafal dengan tentang sejarah Sunda, termasuk soal raja dan kerajaan yang pernah ada di tatar sunda, berikut juga polemik - polemik yang pernah ada di masanya.

Tak hanya itu, Ratu pun bahkan menguasai hitungan kalender Sunda. Ratu juga mampu untuk membaca aksara Sunda kuno. Heran sekali bukan ?? Melihat saya sendiri sebagai orang sunda asli saja sudah lupa sebagaian dengan aksara Sunda. hehe.

Ratu pun mengaku, kedatangannya ke Kota Bandung adalah merupakan agenda pribadinya. Ia ingin napak tilas terhadap situs-situs peninggalan kerajaan Sunda dan mencoba memahami lebih dalam terhadap budaya Sunda.

"Sudah 2 minggu lebih saya berada di Jawa Barat. Saya sudah ke Bandung, Garut, Bogor, dan kota - kota lainnya, serta tempat - tempat spiritual," ujarnya.

Wanita yang sudah mengelilingi 50 Negara untuk mempelajari budaya ini mengaku sangat tertarik mempelajari budaya Sunda karena yakin jika dirinya merupakan keturunan Sunda.

"Kelantan dan Sunda ini ada kaitan, dan satu keluarga. Kelantan merupakan satuan dari Sunda Besar. Karena Saya keturunan Sunda, maka Saya harus mempelajari leluhur budaya saya," kata lulusan universitas di Singapura dan Inggris ini dengan sumringah.

Untuk menghargai leluhurya itulah, ia pun berencana membuat prasasti Sunda didaerah Cibatu, Kabupaten Garut. Ia juga merencanakan akan me-launching kalender sunda di negaraya, Malaysia.

Tidak hanya itu kecintaanya terhadap Sunda, Ratu juga sudah meluncurkan buku Sunda di Malaysia, dan meluncurkan buku tentang silsilah antara Sunda dan Kelantan.

"Kita harus menghargai budaya leluhur kita, baru kita akan selamat di dunia," katanya

Jadi, Jelas bukan ?? Beliau bagi kita bangsa Sunda, dapat dikatakan 'orang asing' karena tidak mengetahui betul dan tinggal secara langsung di tatar Sunda, tetapi masih saja mengakui bahwa beliau memiliki keturunan dalam silsilah Sunda.

Lalu, Bagaimana dengan kita ??

So .. Keep Your 'Sunda' Please .. :)

dikutip dari Tribun Jabar hal 9, 12-okt-2011
READ MORE >>

Iket Sunda

Assalamualaikum Wr. Wb

Iket Sunda merupakan salah satu kelengkapan busana bangsa Sunda yang digunakan pria sebagai penutup kepala. Iket Sunda dibuat dari kain batik yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi model-model yang khas sebagai penutup kepala di daerah Sunda. Pada umumnya dipakai oleh masyarakat umum yang disebut cacah atau somah. Model-model iket Sunda memiliki nama yang diasosiasikan dengan alam lingkungan masyarakat Sunda seperti Barangbang Semplak atau Mantokan, Parékos atau Paros yang terdiri dari Parékos Nangka atau Kebo Modol, Parékos Jéngkol, Lohen atau Paltén, Tutup Liwet atau Duk Liwet. Selain itu dikenal pula nama Porténg dan Kolé Nyangsang.

Kain iket yang wujudnya simple, hanya berbentuk segiempat dan berukuran kira-kira kurang 1 Meter dari bahan batik, pada zaman dulu kala ikat kepala ini sangat multifugsi. Kegunaannya sebagai penutup kepala, peranti pengusir roh jahat, pembawa barang, sampai dengan derajat sosial seseorang. Iket, dewasa ini, malah sudah beralih fungsi menjadi pernak-pernik/aksesoris yang sedang digandrungi oleh anak- anak muda di tatar sunda. Mudah-mudahan dengan maraknya penggunaan iket sunda ini dapat menjadi pencapaian bahwa generasi muda khususnya nonoman sunda (remaja sunda) masih sangat peduli dengan adat budaya sunda dalam kehidupannya sehari-hari. Mengenakan ikat sunda ini berarti mencirikan bahwa kita sebagai orang yang peduli dalam melestarikan budaya sunda.

Berikut foto :

Harga yang ditawarkan bervariasi sesuai dengan kebutuhan, mulai dari 50rb-an sampai 200rb-an, pernak pernik-nya adalah badge 'kujang' sebagai senjata khas dari bangsa sunda sendiri.


Dibawah ini ada beberapa nama dari cara memakai (bentuk) iket:

- Barangbang semplak, iket ini seperti barangbang (dahan kering) yang patah tapi masih nempel dipohon. Culannya hampir menutupi mata. Bagian atasnya terbuka (terlihat rambut). Bisanya iket model ini dulu dipakai oleh para jawara.
- Julang ngapak, bentuk iket ini seperti sayap burung terbang. Dipakai oleh para orang tua
- Kekeongan (di Banten  disebut borongsong keong), bentuknya mirip seperti keong.
- Kuda ngencar, iket yang culanya dibelakang, ngampleh (tergerai) ke bawah. begitu mau ke bagian ujung (melengkung) naik lagi ke atas.
- Maung heuay, bentuk iket ini seperti mulut harimau yang sedang nganga (terbuka).
- Parekos nangka, bentuk iket ini sangat sederhana (basajan). Biasanya dipakai oleh orang yang sedang tergesa-gesa.
- Porteng, iket yang culanya berdiri di depan, dan ujung-ujung kainnya digulung ke belakang.
- Talingkup, iket yang culanya didahi sampai menutupi mata. Talingkup artinya bisa menutupi.
- Selain jenis yang digunakan diatas masihbanyak lagi jenis iket sunda lainnya seperti buaya ngangsar, koncer, porteng, kole nyangsang, dan lain-lain.


Bagi Anda yang masih kurang percaya diri dalam mengenakan iket sunda, cobalah mengenakannya pada saat mengunjungi acara-acara tradisional sunda dulu bersama teman-teman. Mungkin setelah itu Anda akan mulai terbiasa menggunakannya. Dan siapa tau Anda menjadi 'trendsetter'-nya. Saat ini banyak nonoman sunda yang terlihat memakai iket sunda disejumlah acara musik.

Sekedar tips dari saya, cobalah memakai iket sunda dangan cara yang lebih modern. Tidak hanya diperuntukan bagi kaum pria saja, tentunya wanita pun dapat memakainya. Sekedar saran untuk wanita, gunakanlah seperti menggunakan bandana.

Saya ucapkan 'SALUT' terhadap remaja sunda yang dengan peuh percaya diri memakai iket sunda dalam kesehariannya. Dengan meggunakan iket, menunjukan kepada khalayak lain bahwa kita sangat peduli terhadap pelestaria budaya Sunda.


Terakhir, Marilah kita bersama-sama memakai ikat sunda, akuilah ini budaya kita sebelum dicuri oleh negara tetangga, selain merupakan gaya, itung-itung kita bersama-sama melestarikan budaya sunda agar terus jaya sampai 'saat terakhir'.

Bila tertarik ingin memesan, silahkan komentar di blog ini ..
READ MORE >>